Skoring SNMPTN dan Expectation Value

Seleksi tulis SNMPTN bisa dibilang merupakan salah satu hal yang membuat berbagai siswa SMA galau (well, at least buat saya yang angkatan *ehem* tua ini). Gimana nggak, setelah sekolah tiga tahun di tingkat sekolah menengah akhir, nasib mereka ditentukan oleh ujian beberapa jam yang nantinya akan menentukan tempat mereka menimba ilmu di tingkat perguruan tinggi. Di tulisan ini saya nggak akan curhat panjang lebar tentang gimana dulu saya belajar mati-matian, atau juga nggak akan kasih tips dan trik buat bisa lolos SNMPTN (kalian semua pada ikut bimbel atau les kan?), tapi lebih ke hasil pemikiran random karena banyak tugas kuliah :”.

PENILAIAN HASIL UJIAN
Penilaian hasil ujian menggunakan ketentuan sebagai berikut:
Jawaban BENAR : + 4
Jawaban SALAH : – 1
Tidak Menjawab : 0

Itu adalah sekilas cara penilaian SNMPTN (atau sebagian seleksi masuk perguruan tinggi lainnya) untuk pilhan ganda dengan lima opsi pilihan (A,B,C,D,E). Kalau kalian semua punya pikiran “wah kalau salah nilai kita dikurangi 1 bro, ati-ati” atau “wah penilaiannya nggak adil nih” mungkin tulisan ini bisa meyakinkan kalian.

Misal kita punya uang koin 500 Rupiah, kalau kita lempar koin itu keatas (dan sampai jatuh ke bawah, jangan sampai ilang) kira-kira yang bakalan muncul gambar apa? Angka atau Garuda?

koin500
500 Rupiah, bisa dapet 1 wafer superman

Continue reading “Skoring SNMPTN dan Expectation Value”

Skoring SNMPTN dan Expectation Value

On A Door of Opportunity

Someone once said to me, “You will find a lot of door of opportunity in the following years”. They also said, “Sometimes you need to close one of the door in order for you to find others”. What they said seems good and logical, one door that you close will enable you to find other door leading you to possibly brighter different path.

What they didn’t know is the following: What if most of your doors that you’ve opened up until know are indeed the doors that define who you are. Doors that you constantly open while believing there will be some kind of hidden treasure in the end. Doors that you constantly open while they improve yourself in the process.

Or maybe, the perfect image that we built of this ideal goal only exist in our mind. Yes it’s good in the sense that it enables us to grow in our full potential, but it’s not real. Maybe we need to start realizing that life is not a maze where there is exist only one route to a goal. Life is indeed full of possibilities and offers multiple ways. It’s only up to us to explore what life brings.

But that’s only possible if we are brave enough to close one door and search another.

On A Door of Opportunity

A 20:80 Rule

Vilfredo Pareto was an Italian economist. He published a paper showing that 80% of the land in Italy was owned by 20% of the population. His principle, called “Pareto principle” turns out can be applied and used to explain a lot of events that happens in this world. In the field of economics, it can be used to show that roughly 20% of the world’s riches control 80% of world’s income. In the field of business, it can also be used to show that roughly 80% of company’s income come from 20% of its customer, as well as 80% of its complaints comes from 20% of its customer. In the field of linguistic, it can be used to show that 20% most used words in every languages will show 80% of the time in that specific language. The list goes on and on. Heck! It can be used to show that you will use 20% of clothes in your drawer 80% of the time!

As a human however, sometimes it is hard for us to care if one only shows us a statistical number. If I tell you that 80% of people who live in your neighborhood only share 20% of the wealth that your neighborhood have, will you take a glimpse and think about them? I don’t think so. Only when you interact with one of them, meet them face to face in person, you will at least have a feeling that you want to help those in need.

This principle will also tell you that there are exist a number of people, roughly 20% of the people you have met throughout your life, that have a great influence in your life. 80% of your success, what you achieve in your life, will be because of them. They may be people who are in the same class at you when you were in high school, they may be the one that you meet in your office and give you a recommendation letter for your new job, they may be your best friend who sticks with your weirdness, they may be anyone you don’t notice at first. What I know that, you owe these people a thank you.

A 20:80 Rule

Computer Scientist Mentality

Computer scientists tend to think in worse case scenario. “Is this code secure enough?”, “What if it isn’t?”, “What if someone try to do this way in my code?”, “How fast is my algorithm? What if i use more data?”, and so on and so forth. In achieving so, and over-worrying that, they often forgot that they can do more with their time and man-resources.

Sometimes that mentality makes them see the world through the over-worried hyper-pessimistic spectacles. “Am I doing this correctly?”, “What if someone come and ruins my expectation of the world?”, “Can I survive this?”, and so on and so forth.

Computer Scientist Mentality

Road to Master’s : TOEFL iBT vs IELTS Academic

Malam minggu yang indah, tiba-tiba Saya teringat ada janji (ke diri sendiri) untuk nulis apa aja yang telah dilakukan setidaknya setahun ini untuk melanjutkan studi. Dan saking banyaknya yang belum ditulis, jadi kayaknya mau nulis jadi beberapa bagian blogpost deh :p. Kali ini mau berbagi tentang tes Bahasa Inggris yang biasanya diminta oleh sekolah, TOEFL iBT dan IELTS.

TOEFL iBT dan IELTS, dua jenis tes kemampuan Bahasa Inggris yang nampaknya sudah nggak asing lagi di telinga kita (well, at least di telinga para pencari sekolah dan pemburu beasiswa). Gimana nggak, untuk mendaftar sekolah setidaknya kita perlu untuk mengambil salah satu dari tes tersebut, walaupun masing-masing sekolah mempunyai preferensinya masing-masing untuk menggunakan jenis tes yang mana, dan berapa skor minimum yang dibutuhkan.

Saya termasuk orang yang beruntung karena pernah mengambil kedua jenis tes tersebut. Untuk tes iBT, Saya mengambilnya pada bulan September 2013 dan Alhamdulillah disponsori oleh kampus Saya semasa S1 dahulu, Fakultas Ilmu Komputer UI. Sedangkan untuk tes IELTS, Saya mengambilnya pada bulan Desember 2014 yang Alhamdulillahnya lagi disponsori oleh kantor tempat Saya bekerja, Errai Pasifik, menggunakan allowance untuk pendidikan.

Ini pendapat pribadi, menurut Saya IELTS lebih enjoyable dibandingkan dengan iBT, bukan berarti lebih mudah loh yaa. Baik iBT maupun IELTS mengetes kemampuan kita baik dari segi listening, reading, writing, dan speaking dengan tingkat kesukaran yang relatif sama. Tetapi ada beberapa perbedaan di kedua tes tersebut. Oh iya, untuk IELTS Saya mengambil yang jenis Academic (bukan yang General Training), jadi apa yang Saya tulis ini berdasarkan hal tersebut.

TOEFL iBT lebih mengetes kemampuan kita dari segi bagaimana kita menggabungkan kemampuan listening, reading, writing dan speaking kita. Maksudnya? Jadi dalam iBT, jenis tesnya tidak hanya eksklusif untuk satu jenis tes saja tiap waktu. Misalnya dalam sesi writing, tidak hanya kita diberikan tema dan kita diminta untuk menulis tentang tema tersebut, tetapi bisa saja ada dialog yang harus kita perdengarkan terlebih dahulu dan kita harus menulis sesuatu tentang dialog tersebut (jadi tes tersebut mengetes kemampuan listening pula). Dan sesuai namanya, iBT adalah Internet Based TOEFL, sehingga pada saat tes kita mengerjakan langsung di depan layar komputer, tinggal klik-klik dan ketak-ketik serta sepik-sepik di depan layar. Satu hal yang Saya kurang menikmati dari iBT adalah pada saat sesi speaking, kita berbicara langsung didepan komputer, tanpa ada interaksi dengan manusia. Jadi bayangin aja kita bicara ke mesin penjawab telepon gitu deh, kan sedih ga bisa natap mata manusia 😦 *apasih*. Dan karena kita berada di satu ruangan bersama-sama beberapa peserta lain, jadi pada sesi speaking agak berisik dan kurang konsentrasi.

IELTS cenderung lebih konservatif dan kuno dalam pelaksanaan tes. Yes, seriously kuno, kita masih menggunakan kertas dan pensil dalam melakukan tes, beda dengan iBT yang jauh lebih high-tech pake komputer dan pake akses internet. Dan juga IELTS lebih konservatif karena mengetes kemampuan kita secara terpisah. Dalam sesi-sesi tesnya, kemampuan listening, reading, writing dan speaking kita dites secara terpisah dalam masing-masing sesi, jadi pada sesi listening ya kita bisa berharap kalo yang dites hanya kemampuan listening saja. Yang paling lelah (lelah sampe butuh pijet, bukan pijet plus-plus tapinya xD) adalah sesi writing, bayangin aja harus bacot nulis sesuatu di dua lembar kertas A4, pake pensil, dalam waktu kira-kira dua jam, pegel bro!. Tetapi sesi speaking IELTS jauh lebih menyenangkan karena kita langsung berbicara dengan manusia, dan bule. Jadi kita bisa menatap wajah dan mata sang bule tersebut :” (walaupun Saya dapet interviewer cowok, kalau cewek mungkin udah salah fokus #apasih). Si interviewer sesi speaking ini cenderung ramah dan mereka memberikan feedback tentang performa speaking kita, jadi kita tidak akan merasa seperti berbicara dengan robot seperti pada iBT.

Tetapi intinya sih bro dan sist, apapun tes yang kita ambil, baik itu iBT maupun IELTS, kita kudu belajar sebelum ambil tes tersebut. Walaupun kita tidak ikut preparation class, kita tetap bisa belajar secara mandiri, asalkan rutin dan terencana dengan baik. Menurut pengalaman pribadi Saya dan teman-teman, sesi paling susah (untuk dapat nilai yang memuaskan) adalah sesi writing dan speaking. Kita butuh teman yang membantu kita memberi feedback performa kita untuk kedua sesi tersebut, beda dengan sesi lain yang feedbacknya bisa kita dapat dari kunci jawaban buku persiapan tes.

Road to Master’s : TOEFL iBT vs IELTS Academic

Satu Minggu Untuk Selamanya

Jika Kelas Inspirasi Depok 2 merupakan salah satu highlight kegiatan inspiratif di tahun 2014, maka di tahun ini mengikuti Persiapan Keberangkatan angkatan 31 (PK-31) Beasiswa LPDP merupakan kegiatan pertama di 2015 yang membuat Aku yakin bahwa negeri ini mempunyai orang-orang hebat di dalamnya.

Kegiatan yang berlangsung selama satu minggu dari tanggal 22 hingga 27 Maret lalu ini mempertemukan putra-putri terbaik Indonesia, dari ujung barat hingga ujung timur, dari berbagai bidang ilmu. Kami bertemu untuk saling menggali inspirasi sebelum akhirnya berpencar ke seluruh belahan dunia, menambah ilmu pengetahuan dengan satu tujuan utama: membangun masa depan Indonesia. Kegiatan ini diisi dengan beberapa narasumber, beberapa kegiatan yang fun dari para awardee sendiri, kegiatan sosial, serta outbound dan team building. Kurang tidur serta kelelahan merupakan harga yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang Kami dapatkan.

Semoga Tuhan menjadikan satu minggu pertemuan ini cikal bakal kemajuan Indonesia untuk selamanya.

pk-31
PK-31 All Stars

Terima Kasih orang-orang hebat.

Indonesia, Aku pasti mengabdi.

PK-31, Anigou Ekowaii!

Satu Minggu Untuk Selamanya