Road to Master’s : TOEFL iBT vs IELTS Academic

Malam minggu yang indah, tiba-tiba Saya teringat ada janji (ke diri sendiri) untuk nulis apa aja yang telah dilakukan setidaknya setahun ini untuk melanjutkan studi. Dan saking banyaknya yang belum ditulis, jadi kayaknya mau nulis jadi beberapa bagian blogpost deh :p. Kali ini mau berbagi tentang tes Bahasa Inggris yang biasanya diminta oleh sekolah, TOEFL iBT dan IELTS.

TOEFL iBT dan IELTS, dua jenis tes kemampuan Bahasa Inggris yang nampaknya sudah nggak asing lagi di telinga kita (well, at least di telinga para pencari sekolah dan pemburu beasiswa). Gimana nggak, untuk mendaftar sekolah setidaknya kita perlu untuk mengambil salah satu dari tes tersebut, walaupun masing-masing sekolah mempunyai preferensinya masing-masing untuk menggunakan jenis tes yang mana, dan berapa skor minimum yang dibutuhkan.

Saya termasuk orang yang beruntung karena pernah mengambil kedua jenis tes tersebut. Untuk tes iBT, Saya mengambilnya pada bulan September 2013 dan Alhamdulillah disponsori oleh kampus Saya semasa S1 dahulu, Fakultas Ilmu Komputer UI. Sedangkan untuk tes IELTS, Saya mengambilnya pada bulan Desember 2014 yang Alhamdulillahnya lagi disponsori oleh kantor tempat Saya bekerja, Errai Pasifik, menggunakan allowance untuk pendidikan.

Ini pendapat pribadi, menurut Saya IELTS lebih enjoyable dibandingkan dengan iBT, bukan berarti lebih mudah loh yaa. Baik iBT maupun IELTS mengetes kemampuan kita baik dari segi listening, reading, writing, dan speaking dengan tingkat kesukaran yang relatif sama. Tetapi ada beberapa perbedaan di kedua tes tersebut. Oh iya, untuk IELTS Saya mengambil yang jenis Academic (bukan yang General Training), jadi apa yang Saya tulis ini berdasarkan hal tersebut.

TOEFL iBT lebih mengetes kemampuan kita dari segi bagaimana kita menggabungkan kemampuan listening, reading, writing dan speaking kita. Maksudnya? Jadi dalam iBT, jenis tesnya tidak hanya eksklusif untuk satu jenis tes saja tiap waktu. Misalnya dalam sesi writing, tidak hanya kita diberikan tema dan kita diminta untuk menulis tentang tema tersebut, tetapi bisa saja ada dialog yang harus kita perdengarkan terlebih dahulu dan kita harus menulis sesuatu tentang dialog tersebut (jadi tes tersebut mengetes kemampuan listening pula). Dan sesuai namanya, iBT adalah Internet Based TOEFL, sehingga pada saat tes kita mengerjakan langsung di depan layar komputer, tinggal klik-klik dan ketak-ketik serta sepik-sepik di depan layar. Satu hal yang Saya kurang menikmati dari iBT adalah pada saat sesi speaking, kita berbicara langsung didepan komputer, tanpa ada interaksi dengan manusia. Jadi bayangin aja kita bicara ke mesin penjawab telepon gitu deh, kan sedih ga bisa natap mata manusia 😦 *apasih*. Dan karena kita berada di satu ruangan bersama-sama beberapa peserta lain, jadi pada sesi speaking agak berisik dan kurang konsentrasi.

IELTS cenderung lebih konservatif dan kuno dalam pelaksanaan tes. Yes, seriously kuno, kita masih menggunakan kertas dan pensil dalam melakukan tes, beda dengan iBT yang jauh lebih high-tech pake komputer dan pake akses internet. Dan juga IELTS lebih konservatif karena mengetes kemampuan kita secara terpisah. Dalam sesi-sesi tesnya, kemampuan listening, reading, writing dan speaking kita dites secara terpisah dalam masing-masing sesi, jadi pada sesi listening ya kita bisa berharap kalo yang dites hanya kemampuan listening saja. Yang paling lelah (lelah sampe butuh pijet, bukan pijet plus-plus tapinya xD) adalah sesi writing, bayangin aja harus bacot nulis sesuatu di dua lembar kertas A4, pake pensil, dalam waktu kira-kira dua jam, pegel bro!. Tetapi sesi speaking IELTS jauh lebih menyenangkan karena kita langsung berbicara dengan manusia, dan bule. Jadi kita bisa menatap wajah dan mata sang bule tersebut :” (walaupun Saya dapet interviewer cowok, kalau cewek mungkin udah salah fokus #apasih). Si interviewer sesi speaking ini cenderung ramah dan mereka memberikan feedback tentang performa speaking kita, jadi kita tidak akan merasa seperti berbicara dengan robot seperti pada iBT.

Tetapi intinya sih bro dan sist, apapun tes yang kita ambil, baik itu iBT maupun IELTS, kita kudu belajar sebelum ambil tes tersebut. Walaupun kita tidak ikut preparation class, kita tetap bisa belajar secara mandiri, asalkan rutin dan terencana dengan baik. Menurut pengalaman pribadi Saya dan teman-teman, sesi paling susah (untuk dapat nilai yang memuaskan) adalah sesi writing dan speaking. Kita butuh teman yang membantu kita memberi feedback performa kita untuk kedua sesi tersebut, beda dengan sesi lain yang feedbacknya bisa kita dapat dari kunci jawaban buku persiapan tes.

Road to Master’s : TOEFL iBT vs IELTS Academic